Berita Lengkap

Peluncuran Pedoman Nasional Asuhan Pasca Keguguran Komprehensif

Jakarta, 13 Januari 2021, Satu dari empat perempuan yang pernah hamil pernah mengalami keguguran selama hidupnya. Ini menyebabkan keguguran menjadi salah satu penyumbang terhadap masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Riskesdas (2010) mencatat 4% kehamilan berakhir pada keguguran di bawah usia kehamilan 20 minggu.

Terlepas dari penyebab apapun, keguguran dapat menyebabkan kematian dan masalah-masalah kesehatan fisik dan mental. Selain perdarahan dan infeksi, dilaporkan bahwa 20% keguguran dapat menyebabkan kecemasan dan depresi . Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI menegaskan perlunya penguatan layanan Asuhan Pasca Keguguran (APK) untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan pada ibu.

Bekerja sama dengan PP POGI, PB IBI, PDUI, dan Yayasan Ipas Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat) telah meluncurkan Pedoman Nasional Asuhan Pasca Keguguran yang Komprehensif, yang dihadiri oleh lebih kurang sebanyak 3.000 peserta dari organisasi profesi, lintas program, mitra dan Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, Rumah Sakit dan Puskesmas dari seluruh Provinsi, baik melalui zoom maupun youtube. Pedoman ini menegaskan perlunya 5 komponen kunci dalam layanan APK antara lain: (1) konseling, (2) tatalaksana medis yang sesuai dengan rekomendasi dan bukti ilmiah terkini, (3) layanan kontrasepsi, (4) rujukan ke layanan lain yang diperlukan, dan (5) kemitraan dan pemberdayaan masyarakat.

Panduan Nasional APK yang Komprehensif mendorong digunakannya teknologi yang ramah perempuan untuk menyelenggarakan layanan dengan menggunakan aspirasi vakum dan medikamentosa. Pengalaman implementasi di 13 fasilitas kesehatan di 3 kabupaten/kota di pulau Jawa: Kota Yogyakarta, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Ponorogo. dr. Ilyas dari RSIA Ponorogo menyampaikan bahwa penggunaan Aspirasi Vakum Manual (AVM) dalam penanganan keguguran lebih praktis untuk dilakukan oleh tenaga medis dengan hasil yang sangat baik. Selain itu penggunaan AVM dapat menurunkan 30% dari biaya yang dibutuhkan untuk kuretase tajam.

Namun demikian, layanan APK tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk memastikan tersedianya layanan kesehatan yang komprehensif bagi perempuan seperti menggalakkan pelaksanaan program Keluarga Berencana, serta melakukan upaya pencegahan terhadap faktor risiko terjadinya keguguran pada seorang ibu hamil. Utamanya, kita perlu menjangkau perempuan yang berisiko tinggi jika mengalami kehamilan, dan juga kelompok pasangan usia subur yang tidak menginginkan kehamilan. Setiap kehamilan harus diinginkan, direncanakan, dan dijaga dengan baik. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI kembali menegaskan bahwa Memberikan perhatian terhadap kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi, berarti kita sudah menanamkan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Untuk keterangan dan informasi lebih lanjut silahkan menghubungi narahubung sebagai berikut:

Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementerian kesehatan