Berita Lengkap

PPAM Kesehatan Reproduksi: Persiapan Kala Bencana Menghampiri

Akibat kondisi geologis, geografis, hidrologis, dan demografisnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rentan terkena bencana. Peristiwa bencana kerap menimbulkan krisis kesehatan. Krisis kesehatan merupakan fenomena yang mengancam kesehatan masyarakat akibat dampak bencana, seperti adanya korban jiwa, luka, efek psikologis, dan berbagai masalah kesehatan lainnya yang dihadapi oleh pengungsi/korban di tempat bencana.

Salah satu aspek kesehatan yang terganggu oleh bencana adalah pelayanan kesehatan reproduksi. Bahkan, kebutuhannya dapat dianggap meningkat karena tidak adanya alat-alat primer saat bencana. Oleh karena itu, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI mengadakan orientasi terkait penguatan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi dalam mekanisme kesiapsiagaan bencana. PPAM sendiri tersusun atas komponen subklaster kesehatan reproduksi, yakni kekerasan berbasis gender, kesehatan maternal dan neonatal, pencegahan penularan IMS dan HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja, pelayanan kontrasepsi, ditambah dengan kesehatan balita serta lansia dalam latar bencana.

Acara orientasi PPAM Kesehatan Reproduksi ini bertajuk Orientasi Pelayanan Kesehatan Keluarga pada Situasi Krisis Kesehatan. Rangkaian acara ini diadakan pada 2 - 4 Februari 2021 pukul 8 pagi melalui media Zoom. Perwakilan Dinas Kesehatan dan dinas lain terkait kesehatan reproduksi dari 7 provinsi (Sulut, Babel, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Papua Barat) di Indonesia diundang untuk mengikuti acara orientasi ini. Agenda kegiatan berisi pembukaan, pemaparan materi dari narasumber, serta sesi tanya jawab.

Rangkaian acara orientasi PPAM Kesehatan Reproduksi dibuka oleh dr. Erna Mulati, M.Sc, CMFM, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI. Erna menegaskan pentingnya untuk meningkatkan respons kesehatan pada situasi krisis kesehatan saat bencana, terutama di bidang kesehatan reproduksi. Terlebih, pada awal tahun 2021 ini saja sudah terjadi banyak bencana alam di Indonesia, seperti gempa di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, Erna berharap kegiatan orientasi PPAM Kesehatan Reproduksi ini dapata meningkatkan wawasan dan pengetahuan anggota subklaster kesehatan reproduksi di masing-masing provinsi.

Pada hari pertama, dr. Lovely Daisy, MKM selaku Analis Kebijakan Ahli Madya Koordinator Kesehatan Usia Reproduksi Kemenkes RI, memberikan materi berjudul Pengenalan PPAM Kesehatan Reproduksi pada Situasi Krisis Kesehatan. Lovely menekankan bahwa pengenalan ini sangat penting karena kita tidak akan punya waktu lagi untuk mempersiapkan kesehatan reproduksi apabila bencana sudah tiba. Sebelum bencana, kita harus melakukan peningkatan kapasitas berupa persiapan prakrisis dan penguatan subklaster kesehatan reproduksi, ungkap Lovely. Selama masa prakrisis kesehatan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh dinas di kabupaten/kota dan provinsi masing-masing. Pertama, pahami bahwa kita sudah punya pedoman. Ada cukup banyak pedoman sebagai pegangan kita dalam melakukan PPAM Kespro saat bencana, ujar Lovely. Kedua, dinas perlu melakukan latihan dan orientasi dengan melibatkan mitra terkait. Hal ini diperlukan agar koordinasi antarmitra sudah terjalin saat bencana datang. Jika tidak melakukan komunikasi rutin, (koordinasi antarmitra) akan repot saat terjadi bencana, tambah Lovely. Selanjutnya, Lovely menyebutkan bahwa perlu dibentuk subklaster kesehatan reproduksi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Setelah subklaster terbentuk, penyediaan logistik perlu dilakukan sebagai bentuk PPAM Kespro di latar darurat.

Dalam kegiatan subklaster kesehatan reproduksi, ada lima komponen awal yang perlu dilakukan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi, yakni (1) mengidentifikasi koordinator dan mekanisme koordinasi subklaster, (2) mencegah dan menangani kekerasan seksual berbasis gender, (3) mencegah penularan HIV, (4) mencegah peningkatan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal, dan (5) merencanakan pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif dan terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar ketika situasi stabil.

Selain komponen awal tersebut, terdapat tiga komponen tambahan, yaitu menjamin keberlangsungan layanan KB, layanan kesehatan reproduksi remaja, dan pengelolaan logistik kesehatan reproduksi. Di luar segi reproduksi, subklaster ini turut mengurus kesehatan balita dan lansia.

Presentasi Lovely ditutup dengan menyerukan slogan, Ingat Kespro Bencana, Ingat Paket Pelayanan Awal Minimum Kesehatan Reproduksi Setelah rangkaian orientasi ini, diharapkan setiap dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota dapat membentuk subklaster kesehatan reproduksi serta mengurus komponen-komponen di dalamnya agar kesehatan reproduksi tidak terabaikan di kala krisis kesehatan.