Berita Lengkap

Jangan Lengah dalam Cegah DBD!

Saat ini, Indonesia dalam musim pancaroba yang mana musim hujan terjadi berkepanjangan. Selain perlu waspada dengan bahaya pandemi COVID-19 yang mengintai, kita juga perlu berhati-hati dari gigitan nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) yang cukup subur selama musim hujan. Pandemi tidak boleh membuat kita lengah dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini memiliki ciri khas yang mudah diidentifikasi, yakni bintik-bintik putih pada badannya.

Apa saja tanda dan gejala DBD?

Sesuai dengan nama penyakitnya, gejala utama DBD adalah demam. Demam tersebut dapat disertai dengan mual, muntah, ruam kemerahan pada kulit, nyeri sendi, dan/atau rasa sakit di belakang mata. Gejala ini dapat dirasakan selama 2-7 hari.

Hasil pemeriksaan laboratorium yang spesifik mengarah pada DBD adalah penurunan kadar trombosit/keping darah yang lebih rendah dari batas normal. Untuk membedakan DBD dengan demam akibat COVID-19 atau penyakit lain, demam pada DBD umumnya terdiri atas dua episode demam yang berbeda. Orang dengan DBD dapat demam tinggi untuk 1-2 hari, lalu terasa sembuh selama 2 hari ke depannya, dan demam lagi. Waspadalah ketika demam turun dan terkesan sudah sembuh karena justru saat itulah DBD memasuki fase kritis dan perlu perhatian khusus.

Apa bahaya yang bisa timbul jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat? Gejala-gejala DBD dapat menjadi parah dan membahayakan nyawa dalam beberapa jam; terutama jika tidak ditangani dengan baik. Sekitar 1 dari 20 orang dengan DBD akan mengalami gejala-gejala yang berbahaya ini. Beberapa komplikasi yang bisa timbul antara lain syok, kebocoran pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan dalam, hingga kematian jika pasien tidak segera ditangani.

Beberapa gejala DBD berat yang patut diwaspadai adalah dehidrasi, sakit perut, muntah (setidaknya 3 kali selama 24 jam), mimisan, perdarahan langsung dari gusi, muntah darah atau darah pada feses, serta merasa kelelahan. Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala di atas saat demam, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

Bagaimana upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari DBD? Demam berdarah dapat dicegah melalui beberapa cara yang bisa Anda lakukan, seperti pemberantasan sarang nyamuk dan pemberian vaksin.

1. Pengasapan insektisida (fogging)

Pengasapan insektisida, yang lebih dikenal sebagai fogging, adalah kegiatan yang dapat dijumpai pada daerah dengan kasus DBD tinggi. Pengasapan ini diperlukan unuk membunuh nyamuk Aedes aegypti dan jentiknya yang membawa virus dengue. Kegiatan ini dilakukan sebanyak dua kali agar memastikan seluruh nyamuk dan jentiknya telah dibasmi.

2. Rutin menjalankan 3M-Plus Apakah Anda masih ingat slogan 3M yang dulu gencar diiklankan? Berbeda dengan slogan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) dalam masa pandemi ini, upaya 3M-Plus yang bisa dilakukan untuk mencegah DBD adalah:

-. Menguras tempat penampungan air (seperti bak mandi) setiap minggu;

-. Menutup rapat tempat penampungan air;

-. Mendaur ulang barang yang dapat menjadi sarana kembang biak nyamuk;

-. Plus: memasang kawat antinyamuk di ventilasi rumah, memakai kelambu saat tidur, memastikan cahaya cukup di dalam rumah, menanam tanaman pengusir myamuk, menaburkan abate jika penampungan air sulit dikuras, serta menghentikan kebiasaan menggantung pakaian.

3. Mencegah gigitan nyamuk Nyamuk memang dapat menggigit kapanpun; terutama saat Anda sedang lengah. Salah satu kebiasaan yang dapat diadopsi adalah menggunakan krim/losion antigigitan nyamuk ataupun produk-produk yang dapat menghindarkan nyamuk dari kita. Selain itu, Anda juga dapat menggunakan pakaian longgar karena gigitan nyamuk menembus pakaian ketat. Akan tetapi, jangan gunakan losion antinyamuk yang mengandung N-diethylmetatoluamide (DEET) pada anak di bawah usia 2 tahun karena berbahaya.

4. Mendapat vaksin dengue Vaksin dengue dapat diberikan pada anak yang berumur 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak pemberian 6 bulan. Vaksin yang diberikan mengandung 4 jenis virus dan hanya dapat diberikan kepada anak yang sudah pernah sakit DBD sebelumnya. Jika diberikan kepada anak yang belum pernah menderita DBD, anak tidak boleh divaksin karena justru malah akan memperparah ketika anak suatu saat terkena DBD. Sayangnya, vaksin ini belum masuk ke dalam program imunisasi nasional dan belum dapat diakses di Puskesmas. Vaksin dapat diakses di klinik/rumah sakit ataupun tempat praktik dokter anak swasta. Harganya mencapai 1 juta rupiah per 1 kali pemberian vaksin. Akan tetapi, harganya masih relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya perawatan pasien DBD. Demikianlah cara mencegah penyakit DBD. Mari cegah DBD agar dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan aman dan nyaman di rumah!

Referensi

Dengue [Internet]. US: CDC; date unknown [cited 2021 Apr]. Available from: https://www.cdc.gov/dengue/symptoms/index.html

Fadhila SR. Sekilas tentang vaksin dengue [Internet]. Jakarta: IDAI; 2017 Feb [cited 2021 Apr]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-dengue