Berita Lengkap

Mengulas Kelainan Bawaan: Strategi Pencegahan dan Penanggulangan

Kelainan bawaan merupakan momok yang kerap dijumpai oleh cukup banyak keluarga. Walaupun demikian, belum ada pedoman yang mengatur kebijakan dan strategi seputar kelainan bawaan sampai saat ini. Merespons terhadap hal tersebut, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI mengadakan sosialisasi bertajuk Pedoman Kebijakan dan Strategi dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kelainan Bawaan pada Jumat lalu (8/10). Presentan pertama yang memberikan paparan adalah dr. Nida Rohmawati, MPH, Koordinator Poksi Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Nida menjelaskan isi pedoman yang terdiri atas pendahuluan yang mengandung definisi kelainan bawaan, tinjauan umum kelainan bawaan di Indonesia, kebijakan dan strategi operasional yang berisi program prioritas dan targetnya, serta kegiatan pokok dan pendukung yang dilakukan. Selama ini kita belum ada data riil sehingga perlu dilakukan surveilans di tingkat rumah sakit yang mampu melakukan deteksi dan klasifikasi, jelas Nida.

Selanjutnya, Nida menjelaskan bahasan per bab dengan lebih dalam. Selain memaparkan data lapangan yang digunakan dalam latar belakang, dasar hukum penyusunan pedoman juga ditampilkan pada paparannya. Adapun definisi dan klasifikasi kelainan bawaan yang dicatut di dalam pedoman ini merujuk kepada definisi WHO dan klasifikasi ICD-10 yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Pada September 2014—November 2020, terdapat 1913 kasus kelainan bawaan yang dilaporkan di Indonesia. Lima kelainan yang paling umum adalah atresia ani (tidak adanya bukaan dubur), defek abdomen (kecacatan dalam rongga perut), talipes equinovarus (kelainan posisi atau bentuk kaki), bibir sumbing, dan neural tube defect (kecacatan dalam pembentukan sistem saraf janin). Sekitar 50% kelainan bawaan ini tidak diketahui penyebabnya. Walaupun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa mencetus terjadinya kelainan bawaan, seperti (1) faktor genetik (pernikahan antarsaudara dan hubungan darah); (2) infeksi saat masa kehamilan; (3) status gizi ibu, termasuk mikronutrien; (4) faktor lingkungan seperti paparan ibu terhadap zat kimia; dan (5) faktor sosioekonomi.

Sebagian besar faktor risiko tersebut dapat dicegah dan dideteksi dini mulai dari masa remaja, pranikah, prakonsepsi, antenatal, dan pascapersalinan. Bahkan, beberapa hal juga dapat dilakukan saat masa neonatal, atau saat dimulainya siklus hidup. Program-program yang dilakukan pada tiap fase tersebut diterangkan secara jelas dalam dokumen pedoman.Tentunya, strategi pencegahan dan deteksi dini ini membutuhkan keterlibatan lintas sektor, lembaga donor, dan pihak-pihak pelaksana lainnya.

Nida kemudian melanjutkan paparannya dengan menyebutkan beberapa tujuan khusus kebijakan yang dibuat terkait kelainan bawaan, yakni:

1. Meningkatkan upaya pencegahan, deteksi dini, dan tata laksana kelainan bawaan;

2. Memantapkan upaya advokasi, kemitraan dan mobilisasi sumber-sumber pencegahan, deteksi dini, serta tata laksana kelainan bawaan;

3. Memantapkan sistem informasi, meliputi captor, surveilans, dan penelitian.

Topik kedua, dengan judul “Regional Birth Defects Initiative Progress-2020”, disampaikan oleh Dr. Rajesh Mehta, MD selaku Regional Adviser WHO-SEARO. Rajesh membuka presentasinya dengan data yang membahagiakan—penurunan kematian anak di region Asia Tenggara lebih tinggi (51%) dibandingkan performa dunia (43%). Apabila performa ini dipertahankan, region Asia Tenggara dapat mencapai target yang diinginkan pada tahun 2030. Walaupun demikian, kelainan bawaan masih termasuk dalam lima penyebab kematian bayi baru lahir dan balita tertinggi. Fenomena ini pun masih meningkat setiap tahunnya.

Oleh karena itu, WHO-SEARO melakukan beberapa inisiatif, seperti Regional Strategic Framework; rencana nasional kelainan bawaan di semua negara; surveilans kelainan bawaan; serta identifikasi, pencegahan, dan tata laksana kelainan bawaan di semua negara. Berikut adalah regional strategic framework yang dilakukan untuk pencegahan dan penanganan kelainan bawaan.

Selanjutnya, Rajesh menjelaskan data integrasi pencegahan yang telah dilakukan oleh negara-negara di Asia Tenggara. Indonesia telah menjalankan implementasi integrasi ini pada layanan prekonsepsi, perawatan prenatal, dan skrining prenatal. Intervensi lainnya yang turut disampaikan adalah skrining neonatus, kesehatan remaja, vaksinasi rubella, pesan pencegahan kelainan bawaan dalam program PTM, dan perawatan/tata laksana kelainan bawaan. Dalam penutup presentasinya, Rajesh menampilkan alat-alat surveilans terbaru yang digunakan dalam konteks global.

Topik ketiga mengenai Pelayanan Terintegrasi Kelainan Bawaan Birth Defect Integrated Center: Past, Present, & Future dibawakan oleh Dr. dr. Johanes Edy Siswanto, Sp.A(K) sebagai perwakilan dari RSAB Harapan Kita Pusat Kesehatan Ibu & Anak Nasional. Johanes memperkenalkan profil RSABHK di awal presentasinya. Dalam penanganannya, RSABHK berjalan secara berkelanjutan dari prekonsepsi, konsepsi, prenatal, postnatal, bahkan geriatri, jelasnya RSABHK sangat fokus dalam tata laksana multidisiplin kelainan bawaan lahir. Beberapa layanan yang dimiliki oleh RSABHK meliputi klinik fertilitas dan reproduksi endokrinologi, fetal therapy, sitogenetika dan genetic molecular, sampai pelayanan neonatus-pediatri yang terintegrasi dengan baik. Kemudian, Johanes membeberkan strategic business planning dan program skrining yang dimiliki oleh RSABHK.

Bayi dengan kelainan bawaan seringkali membutuhkan perawatan dan intervensi spesial untuk bertahan hidup dan berkembang dengan baik, jelas Johanes, Intervensi sejak dini sangatlah vital untuk memperbaiki luaran bayi-bayi ini.

Setelah pemaparan Johanes, rangkaian sosialisasi dilanjutkan oleh sesi tanya jawab dengan ketiga panelis. Sesi tanya jawab dimoderatori oleh Rima sebagai perwakilan Direktorat Kesehatan Keluarga.