Layout Website 3 Kolom
ANCAMAN PENYAKIT TERKAIT KESEHATAN REPRODUKSI PADA PEREMPUAN
Dipublikasikan Pada : Senin, 04 April 2018,  Dibaca : 223 kali

Sistem reproduksi perempuan rentan terhadap berbagai jenis penyakit, mulai dari yang paling umum seperti keputihan, infeksi kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual, hingga penyakit kronis seperti infeksi HIV AIDS dan kanker. Berikut adalah beberapa penyakit yang sangat erat kaitannya dengan sistem reproduksi perempuan, yaitu IMS dan HIV AIDS, serta kanker leher rahim dan kanker payudara.

IMS dan HIV AIDS Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyebab masalah kesehatan yang serius baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun, pada perempuan IMS berdampak lebih berat karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berbahaya seperti penyakit radang panggul, kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim), kerusakan saluran tuba falopii, hingga infertilitas (kemandulan) dan kanker. Lebih lanjut, IMS juga dapat berdampak buruk bagi ibu hamil dan janinnya, antara lain penyakit bawaan (kongenital), kelahiran prematur, keguguran, kecacatan pada bayi, serta kematian janin dan bayi baru lahir. IMS juga meningkatkan kerentanan perempuan terhadap infeksi HIV akibat adanya inflamasi (peradangan) atau ulserasi (luka) pada organ reproduksi yang akan meningkatkan risiko masuknya infeksi HIV melalui hubungan seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi HIV. Risiko penularan HIV dari laki-laki kepada perempuan lebih besar 2-4 kali dibanding penularan HIV dari perempuan ke laki-laki. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki selaput mukosa yang lebih luas sehingga mudah mengalami luka/iritasi. Selain itu perempuan adalah pihak yang menampung air mani, dan kandungan HIV yang terdapat dalam air mani lebih banyak jumlahnya daripada HIV dalam cairan vagina. Pada remaja perempuan dan perempuan post-menopause bahkan kerentanan ini meningkat karena mereka memiliki mukosa vagina yang lebih tipis dan jumlah cairan vagina yang lebih sedikit. Dampak infeksi HIV pada perempuan juga lebih berat dibanding pada laki-laki. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayinya baik pada saat hamil, bersalin, maupun melalui pemberian ASI kepada bayi. Untuk mencegah penularan IMS dan HIV baik pada laki-laki maupun perempuan perlu dilakukan pencegahan primer melalui konsep ABCDE, yaitu A (abstinence) yaitu tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, B (be faithful) yaitu setia pada pasangan, C (condom) yaitu cegah penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom, D (no drug) yaitu tidak menggunakan narkoba, serta E (education) yaitu aktif mencari informasi dan materi edukasi yang akurat tentang HIV AIDS. Pasangan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang ingin memiliki keturunan sebaiknya melakukan konsultasi dengan Puskesmas atau Rumah Sakit penyedia layanan PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak), atau menghubungi dokter dan bidan yang telah terlatih PPIA. Dengan perencanaan dan perawatan kehamilan yang baik, pasangan ODHA dapat diupayakan untuk memiliki keturunan yang tidak terinfeksi HIV.

Kanker Leher Rahim Kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara merupakan dua penyakit kanker dengan kasus terbanyak pada perempuan. Di Indonesia, kanker leher rahim menempati urutan tertinggi yaitu 8 per 10.000 penduduk diikuti oleh kanker payudara yaitu 5 per 10.000 penduduk (Riskesdas, 2013). Kanker leher rahim merupakan satu-satunya penyakit kanker yang sudah diketahui penyebabnya, yaitu infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Hampir semua (99,7 %) kanker leher rahim disebabkan oleh HPV yang ditularkan melalui hubungan seksual atau kontak langsung dengan kulit, membran mukosa, atau benda yang sudah terkontaminasi HPV. Gaya hidup kurang sehat juga meningkatkan risiko kanker leher rahim, antara lain merokok, konsumsi alkohol, stress, melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum usia 20 tahun, serta berganti-ganti pasangan seksual. Melahirkan anak terlalu banyak juga ditengarai dapat memicu perubahan sel leher rahim yang dapat mengarah pada kanker leher rahim.

Penyakit kanker leher rahim bisa dicegah bila lesi prakanker ditemukan sedini mungkin melalui deteksi dini kanker leher rahim. Metode yang digunakan untuk deteksi dini yaitu dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Apabila dari hasil tes IVA ditemukan lesi prakanker, maka dilakukan pengobatan dengan metode krioterapi, yaitu menggunakan dry ice (zat nitrogen) untuk membekukan dan menghancurkan sel abnormal sehingga tidak berkembang menjadi sel kanker. Selain dengan metode IVA, deteksi kanker leher rahim juga bisa dilakukan dengan metode pap smear, HPV DNA, dan servicograf. Deteksi dini dengan metode IVA merupakan pemeriksaan yang paling sederhana, murah, cepat, dan cukup akurat untuk menemukan kelainan pada tahap kelainan sel atau prakanker dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya.

Kanker Payudara

Berbeda dengan kanker leher rahim, penyebab kanker payudara tidak diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko kanker payudara antara lain yaitu faktor genetik, pola makan tidak sehat, paparan radiasi, obesitas, periode menstruasi lebih lama (haid pertama di bawah 12 tahun dan usia menopause di atas 55 tahun), penggunaan obat hormonal maupun terapi hormonal, dan belum memiliki anak/menyusui di usia di atas 30 tahun.

Kanker payudara dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini. Oleh karena itu deteksi dini kanker payudara sangatlah penting. Semakin dini penyakit ini dideteksi maka kemungkinan keberhasilan pengobatannya semakin besar. Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan metode pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan payudara secara klinis (SADANIS), USG, dan mamografi. Pemeriksaan SADARI dapat dilakukan oleh wanita yang sudah menstruasi setiap bulan yaitu pada hari ke 7 sampai 10 dari hari pertama haid atau bagi wanita yang telah menopause dapat menetapkan satu hari setiap bulannya.

Saat ini telah ada lebih dari 3.700 Puskesmas di seluruh Indonesia telah dilatih deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA dan deteksi dini kanker payudara dengan metode SADANIS. Setiap perempuan berusia di atas 30 tahun dianjurkan untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim setiap 3 sampai 5 (lima) tahun sekali. Biaya deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim dijamin dalam manfaat Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sehingga bagi peserta JKN-KIS tidak perlu khawatir jika ingin mendapatkan pelayanan deteksi dini ini di Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lain yang bermitra dengan BPJS Kesehatan.

Selain melakukan deteksi dini, setiap individu (perempuan dan laki-laki) perlu melakukan pencegahan kanker dengan menerapkan perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet sehat dengan gizi seimbang, Istirahat yang cukup, serta Kelola stress dengan baik.