Layout Website 3 Kolom
PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI CALON PENGANTIN DI KABUPATEN KEPAHIANG, BENGKULU
Dipublikasikan Pada : Kamis, 02 February 2018,  Dibaca : 309 kali

Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu kabupaten dengan kasus pernikahan dini terbanyak di Provinsi Bengkulu. Hal ini berdampak terhadap tingginya jumlah kematian bayi akibat ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan di kabupaten ini. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang tahun 2016 mencatat sejumlah 36 kematian bayi baru lahir dengan penyebab terbanyak BBLR dan 2 orang kematian ibu. Selain itu beberapa hal yang patut mendapat perhatian serius antara lain tingginya jumlah remaja yang hamil di usia di bawah 20 tahun (176 orang), banyaknya jumlah remaja yang melahirkan (94 orang), dan banyaknya jumlah ibu hamil KEK (272 orang).

Dalam rangka menurunkan AKI, AKB, dan angka kelahiran pada remaja, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang telah melakukan program pelayanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin. Orientasi dan sosialisasi KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor terkait, antara lain Program P2M / Imunisasi, Kantor Kementerian Agama, seluruh Puskesmas dan KUA Kecamatan (14 Puskesmas dan 8 KUA Kecamatan), serta Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB. Kesepakatan dari kegiatan ini yaitu seluruh Puskesmas dan KUA melaksanakan KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, serta pembuatan SK Bupati dan MoU tingkat kabupaten antara Dinas Kesehatan dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepahiang.

Saat ini, terdapat 4 Puskesmas di Kabupaten Kepahiang yang telah memiliki MoU dengan KUA Kecamatan dan melaksanakan KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, yaitu Puskesmas Nanti Agung dan Puskesmas Tebat Karai bekerjasama dengan KUA Kecamatan Tebat Karai; Puskesmas Batu Bandung bekerjasama dengan KUA Kecamatan Muara Kemumu; serta Puskesmas Keban Agung bekerja sama dengan KUA Kecamatan Bermani Ilir. Sebelum dilakukan penandatanganan MoU, telah dilaksanakan orientasi dan sosialisasi kepada lintas program dan lintas sektor terkait meliputi Camat, Kepala Desa / Lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas KUA Kecamatan.

KIE kesehatan reproduksi calon pengantin bertujuan meningkatkan akses dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin melalui pemberian KIE kesehatan reproduksi oleh petugas kesehatan di puskesmas dan jaringannya, koordinasi dengan lintas sektor terkait dan lembaga keagamaan dalam memberikan KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, serta pelayanan pemeriksaan kesehatan dan imunisasi bagi calon pengantin. Adapun sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah seluruh pasangan calon pengantin di wilayah Kabupaten Kepahiang. Terdapat dua metode KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin yang dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang. Pertama, calon pengantin yang datang ke KUA dirujuk ke Puskesmas untuk mendapatkan KIE kesehatan reproduksi bagi calon pengantin dan pelayanan pemeriksaan kesehatan. Kedua, calon pengantin dikumpulkan di KUA (kurang lebih 15 pasang calon pengantin) dan petugas Puskesmas datang ke KUA untuk memberikan penyuluhan tentang KIE kesehatan reproduksi calon pengantin.

Program pelayanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin di Puskesmas di Kabupaten Kepahiang didukung dengan adanya dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) serta koordinasi yang baik antar lintas program dan lintas sektor terkait. Namun demikian, masih terdapat tantangan dalam pelaksanaan program ini, antara lain terbatasnya media lembar balik KIE kesehatan reproduksi dan seksual bagi calon pengantin yang ada di Puskesmas dimana saat ini hanya tersedia 1 (satu) buah per Puskesmas, terbatasnya sarana prasarana termasuk tenaga analis laboratorium di Puskesmas, belum terakomodirnya pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan reproduksi calon pengantin dalam sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas, serta belum adanya kartu kesehatan calon pengantin. Tantangan lainnya yaitu jarak tempuh antara KUA dan Puskesmas yang cukup jauh serta kerjasama yang ada belum mencakup lintas agama di luar Islam sehingga sulit untuk menjangkau calon pengantin dari agama lain, yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Kesehatan Keluarga telah melaksanakan Orientasi KIE Kesehatan Reproduksi Bagi Fasilitator Penyuluh Pernikahan dan Orientasi Pelayanan Kesehatan Reproduksi Calon Pengantin Bagi Fasilitator Kesehatan Reproduksi di 34 Provinsi dan 34 Kabupaten/Kota pada tahun 2017. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan pelaksanaan KIE dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin di Kabupaten Kepahiang maupun kabupaten/kota lainnya di seluruh Indonesia dapat berjalan dengan lebih komprehensif dan optimal sehingga dapat berkontribusi terhadap penurunan AKI, AKB, dan kelahiran usia remaja di Indonesia.