Layout Website 3 Kolom
Sosialisasi Pemanfaatan Buku KIA
Dipublikasikan Pada : Senin, 02 February 2017,  Dibaca : 1939 kali

(Jakarta, Februari 2017) Mengawali kegiatan dengan dana APBN di tahun 2017, subdit kesehatan Balilta dan Anak Usia Pra Sekolah mengadakan sosialisasi buku KIA di hotel Park Lane, Jakarta pada tanggal 8 sampai 10 Februari 2017. Peserta berasal dari 8 provinsi yang terdiri dari penanggung jawab bidang obgyn dan anak, atau dokter spesialis obgyn dan dokter spesialis anak di RS daerah. Sedangkan dari dinas kesehatan provinsi, diundang pula penangung jawab program KIA dan penaggung jawab bidang pelayanan kesehatan. Dalam pertemuan ini dipaparkan peran buku KIA sebagai alat pencatatan dan edukasi bagi ibu hamil dan bayi hingga anak usia pra skolah. Ibu hamil yang pertama kali memeriksakan kehamilannya akan mendapat buku KIA dari tenaga kesehatan. Buku ini diisi oleh tenaga kesehatan, dan dibaca oleh ibu serta keluarga. Bila ibu berpindah tempat pemeriksaan, buku ini dapat digunakan sebagai buku penghubung antara tenaga kesehatan sebelumnya dengan tenaga kesehatan kemudian yang memeriksa ibu hamil tersebut. Sehingga pelayanan kesehatan yang didapat oleh ibu hamil tidak terputus atau overlapping/berulang (dobel).

Deteksi dini terhadap masalah kesehatan ibu dan anak juga dapat dilakukan karena kondisi mereka tercatat dengan baik di buku KIA. Tanda dan gejala awal masalah kesehatan dapat diajarkan kepada ibu hamil dan ibu balita. Ibu menjadi lebih waspada sehingga tindakan pengawasan, pencegahan dan penanganan dini terhadap masalah kesehatan lebih mudah dilakukan. Edukasi pada ibu hamil dan ibu balita sangat dimungkinkan mengingat buku KIA berisi informasi tentang tanda bahaya dan gejala pada kehamilan ditambah perawatan dan tumbuh kembang pada balita. Melihat fungsi buku KIA sedemikian penting dan luas, peserta pertemuan sepakat bahwa buku KIA sangat bagus dan perlu dimanfaatkan secara luas. Kendalanya, belum semua RS memiliki ketersediaan buku KIA. Selama ini pemanfaatan buku KIA lebih banyak berada di puskesmas sehingga timbul stigma bahwa buku KIA adalah milik puskesmas. Karenanya perlu dilakukan distribusi lebih luas di tingkat rumah sakit sekaligus sosialisasi dan pemanfaatannya.

Pada akhir pertemuan kemudian disepakati beberapa poin penting sesuai peran dan tugas masing masing . Dinas kesehatan, baik provinsi maupun kabupaten/kota, memastikan pemenuhan kebutuhan buku KIA dan melakukan sosialisasi dan advokasi pemanfaatan buku KIA. Organisasi profesi, secara aktif memanfaatakan buku KIA dan melakukan sosialisasi kepada anggotanya. Selaku tempat penyelenggaraan, pihak rumah sakit harus membangun sistem pelayanan dengan memanfaatkan buku KIA. Sedangkan Kementerian Kesehatan, bertugas menyusun panduan informasi medis yang layak dituangkan dalam buku KIA sebagai sarana edukasi bagi keluarga bersama organisasi profesi. (sm/up)