Layout Website 3 Kolom
Kondisi birth defects di Indonesia
Dipublikasikan Pada : Senin, 01 January 2017,  Dibaca : 2735 kali

Apa itu birth defects? birth defects bisa diartikan sebagai kelainan bawaan pada bayi baru lahir. Di Indonesia kelainan bawaan belum tercantum pada data 10 penyakit terbanyak penyebab kematian balita tahun 1992, namun hasil Riskesdas 2007, kelainan bawaan sudah menyumbang 4,9% Angka Kematian Bayi.

Data WHO SEARO 2007 menunjukan bahwa 22% kematian neonatal (bayi baru lahir) di negara-negara South East Asia Region disebabkan kelainan kongenital. Dalam 10 tahun terakhir Angka Kematian Neonatal cenderung stagnan yaitu 20/1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 48% (SDKI balita cenderung meningkat dari 43% (SDKI 2002-2003) menjadi 48% (SDKI 2012). Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, di Indoensia kelainan bawaan berkontribusi sebesar 1,4% terhadap kematian bayi 0-6 hari dan sebesar 18,1% terhadap kematian bayi 7-28 hari. Kelainan bawaan turut berkontribusi terhadap kematian sebesar 5,7% dan terhadap kematian balita sebesar 4,9%. Program penurunan kematian neonatal masih terfokus masalah Bayi Berat Lahir Rendah, asfiksia, dan infeksi.

Penyebab makin banyaknya birth defects di Indonesia memang secara eksplisit belum diketahui, karena belum dilakukan pengumpulan data penyebab terjadinya kelainan bawaan. Sekitar 50% bawaan tidak diketahui penyebabnya, namun ada sejumlah penyebab dan faktor resiko yang diketahui yaitu, faktor sosioekonomi : kelainan bawaan banyak terjadi pada masyarakat dengan status ekonomi rendah, faktor genetik : perkawinan antar-saudara (konsanguinitas), infeksi : sifilis, zika dan rubella, kurang aktifitas fisik, status gizi ibu : defisiensi iodium dan asam folat, obesitas, atau diabetes mellitus, vitamin A dosis tinggi pada kehamilan muda, faktor lingkungan : paparan ibu hamil terhadap pestisida, obat, alcohol, tembakau dan bahan psikoaktif lainnya, zat kimia tertentu. Susunan saraf pusat janin mulai terbentuk pada umur kehamilan 6 minggu, jika ibu yang mulai diketahui hamil, kekurangan asam folat dapat menyebabkan pertumbuhan susunan saraf pusat janin tidak terbentuk sempurna. Kelainan ini secara umum disebut neural tube defect (NTD) diantaranya, anenchepaly (otak bayi tidak terbentuk), meningochele, dan spina bifida, oleh karena itu suatu kehailan benar-benar harus direncanakan, jangan hamil ketika mengalami kekurangan asam folat dan anemia. Kementerian Kesehatan memiliki program preventif dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) yang diberikan kepada remaja putri. Komposisi tablet tambah darah yang diberikan adalah Fero Furmarate dan asam folat 400 mcg (microgram). Ibu yang obesitas, kurang aktifitas fisik dan menderita diabetes mellitus juga beresiko melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Infeksi tertentu seperti TORCH, sifilis, zika dan rubella yang dialami ibu selama masa kehamilan beresiko bayi yang dilahirkan cacat, dan ibu hamil yang berdomisili didaerah yang tercemar oleh zat seperti merkuri didaerah pertambangan emas rakyat (illegal), pencemaran timbal di lokasi daur ulang aki bekas illegal, dsb.

Program pencegahan dan pengendalian kelainan bawaan di Indonesia masih merupakan program yang relatif baru di tingkat nasional. Indonesia belum memiliki data nasional untuk jumlah bayi lahir dengan kelainan bawaan. Oleh karena itu untuk memuat perencanaan strategis program kelainan bawaan, dirintis kegiatan dan jejaring surveilans kelainan bawaan sejak tahun 2013 bekerjasama dengan WHO, POGI, IDAI, IBI, PPNI, (IPANI) dan PORMIKI (Mar)

foto : koleksi pribadi Eriyati Indrasanto