Layout Website 3 Kolom
Memantau Tumbuh Kembang Balita Kita
Dipublikasikan Pada : Senin, 01 January 2017,  Dibaca : 524 kali

Derasnya arus informasi yang ada saat ini ternyata belum menjadi jaminan bahwa setiap orang tua yang mempunyai balita bisa mendapatkan informasi yang lengkap mengenai proses tumbuh kembang balita dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal ini terlihat dari masih adanya kalangan masyarakat yang memegang teguh mitos-mitos yang keliru terkait masalah tumbuh kembang anak, termasuk di kalangan terdidik di perkotaan. Contoh yang dialami penulis adalah saat anak terlambat bicara dianggap hal yang biasa, dengan alasan anak-anak sebelumnya di keluarga yang sama mengalami hal serupa. Orang tua cenderung pasif menunggu bahkan hanya untuk pemeriksaan secara umum, hingga usia anak melebihi masa-masa emas untuk mendapatkan hasil terbaik dari stimulasi usia dini.

Pertumbuhan dan perkembangan balita seperti apa yang seharusnya dipantau, sehingga orang tua, pengasuh atau pendidik bisa memberikan stimulasi maupun intervensi yang sesuai untuk hasil yang optimal. Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 menerbitkan informasi umum terkait hal ini dalam bentuk buku saku, yang mudah dibawa dengan menggunakan bahasa sederhana sehingga dapat dijadikan panduan bagi orang tua untuk memantau tumbuh kembang balitanya.

Mengulang sedikit mengenai perbedaan tumbuh dan kembang, pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran, sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan anak. Pertumbuhan dapat dilihat dari bertambahnya tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, serta tumbuhnya gigi. Meskipun faktor genetik berperan dalam proses pertumbuhan namun para ahli mengeluarkan standard pertambahan ukuran yang harus dipenuhi oleh seorang anak untuk dapat dikategorikan dalam batas normal. Sebagai contoh, pada usia satu tahun berat badan bayi diharapkan bertambah sedikitnya tiga kali berat badan lahir. Sementara pada anak balita yang tumbuh optimal, diharapkan kenaikan berat badan sebesar 2 kg setiap tahunnya. Begitu juga dengan tinggi badan, kenaikan sebesar 7cm per tahun menjadi standard pertumbuhan yang optimal.

Sedikit berbeda, perkembangan adalah penambahan kemampuan anak. Ada beberapa kemampuan khusus yang menjadi tanda perkembangan optimal seorang anak sesuai usianya. Pemantauan setiap tiga bulan untuk anak di bawah satu tahun, dan pemantauan sekali setahun untuk tahun-tahun berikutnya ditetapkan sebagai patokan untuk mempermudah pengelompokan stimulasi dan intervensi tumbuh kembang anak. Tercakup dalam catatan ini empat komponen perkembangan, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan kemampuan sosial, misalnya pada usia Sembilan bulan, seorang bayi diharapkan sudah merambat, meraih benda sebesar kacang, bermain tepuk tangan atau ciluk-ba, mengucapkan satu suku kata, seperti ma dan pa, serta makan kue atau biskuit sendiri.

Dalam buku saku ini disajikan pula informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Bukan hanya pemenuhan gizi dan pola asuh, tetapi faktor genetik, hormon dan status kesehatan juga secara bersama-sama menentukan proses tumbuh kembang tersebut. Hal ini terangkum dalam kebutuhan 3A yaitu Asah, Asih dan Asuh, dimana Asah adalah kebutuhan akan stimulasi sedini mungkin berupa rangsangan dari lingkungan terdekat seperti bermain dan ajakan berbicara dengan anggota keluarga. Sementara Asih adalah kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, kemandirian dan harga diri dari orang tua, serta Asuh adalah kebutuhan akan sandang, papan dan perawatan kesehatan.

Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa pertumbuhan dan perkembangan berlangsung bersamaan dan tidak dapat dipisahkan, sehingga baik pemantauan, stimulasi maupun intervensi tumbuh kembang harus dilakukan secara menyeluruh dan berkala. Dan sebagaimana yang dijamin dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002, setiap anak berhak mendapatkan pemantauan tumbuh kembang tanpa kecuali. (wen)