Layout Website 3 Kolom
Target Nol, Buka Rumah Tunggu Kelahiran
Dipublikasikan Pada : Jumat, 06 June 2016,  Dibaca : 2506 kali

Lantunan gending jawa mengiringi langkah Bupati Kediri menuju acara Launching Rumah Tunggu Kelahiran diiringi Cucuk lampah dengan pager ayu yang selalu siap menjadi pelayan di bidang Kesehatan Ibu dan Anak. Pada 1 Juni 2016 Kab Kediri menorehkan sebuah gebrakan baru dalam perbaikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

Penurunan AKI dan AKB merupakan salah satu tujuan SDG’s pada poin ke 3 yaitu Menjamin Kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia yang tertuang dalam target sistim kesehatan nasional pada akhir th 2030 mengurangi Angka Kematian Ibu hingga dibawah 70/100.000 Kelahiran Hidup ( KH ) dan mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12/1000 KH dan Angka Kematian Balita 25/1000 KH Demikian juga yang tertuang dalam Indikator Kinerja Utama ( IKU ) Kab Kediri dalam RPJMK 2016 - 2021. Pada kesempatan ini, Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno berharap jauh ke depan agar Kabupaten Kediri akan mendapatkan angka kematian nol / zero seperti di negara yang lebih maju. Beliau juga mengatakan bahwa setelah tahun 2012, Kediri menjadi daerah fokus Kementrian Kesehatan karena menjadi daerah penyumbang AKI dan AKB yang cukup tinggi di Jawa Timur. Kabupaten Kediri telah melakukan gerakan yang cepat dan cerdas sehingga dari tahun ketahun angka penurunan kematian ibu semakin membaik dan pada tahun 2014 dapat menurunkan hingga separo dari angka semula yang kemudian mendapatkan anugerah penghargaan Bupati dari Propinsi Jawa Timur atas komitmennya memberi dukungan terhadap kesehatan dalam Penurunan Kematian Ibu dan Bayi yang kemudian tahun 2015 penghargaan tersebut berhasil diraih kembali.

Meskipun penurunan kematian sudah sangat signifikan, tetapi Pemda Kabupaten Kediri tidak berpuas diri karena itu perlu langkah-langkah yang lebih kongrit diantaranya dengan membuka Rumah Tunggu Kelahiran ( RTK ) yang tujuannya adalah mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini sangatlah tepat mengingat jumlah sasaran ibu hamil 27.185, ibu bersalin 25.950, dan bayi baru lahir 24.714 dan letak beberapa daerah ada di lokasi lereng gunung Kelud dan lereng gunung Wilis sehingga diharapkan RTK Ini dalam mencegah 3 terlambat ( Terlambat Mengambil Keputusan, Terlambat mencapai Tempat Rujukan, Terlambat mendapat penanganan yang Adekuat ).

Acara dilanjutkan dengan prosesi pindahan rumah menggunakan adat jawa yang diawali dengan pengguntingan pita oleh Bupati diteruskan dengan kepruk kendil oleh Kadinkes dr. Adi Laksono dan membersihkan jalan sebagai pentanda tolak balak atau musibah sehingga penghuninya diberikan keselamatan dan kemudahan. Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan kepada ibu hamil sebagai perlambang kesejahtaran masyarakat juga menjadi tanggung jawab bersama.

Saat ini Pemkab menyiapkan 16 Rumah Tunggu Kelahiran, 4 diantaranya berada di sekitar Rumah Sakit salah satunya di Jl Bengawan Solo Desa Pelem Kecamatan Pare yang saat ini sedang diresmikan. Sedangkan 12 RTK yang lain berada di wilayah Puskesmas. Fungsi RTK yang berada di dekat RS adalah sebagai tempat tinggal sementara ibu hamil dengan pendampingnya ( suami, kader, atau keluarga ) dalam beberapa hari sampai menunggu persalinan yang sudah direncanakan dengan tenaga kesehatan Rumah Sakit baik pathologis maupun normal. RTK Rumah Sakit bisa digunakan oleh seluruh masyarakan dengan menggunakan prinsip regionalisasai rujukan sehingga harapannya tidak terjadi penumpukan di salah satu RTK.

Operasional RTK sendiri didukung oleh berbagai pihak dengan memberikan kontribusi masing- masing sesuai dengan kemampuannya, dimana telah dilakukan pertemuan koordiasi dengan beberapa kesepakatan diantaranya adalah :

1. RS se-Kab Kediri : Semua RS di Kabupaten Kediri termasuk RS Gambiran Kota Kediri berkontribusi untuk memantau pasien dan melakukan penjemputan dari Rumah Tunggu Kelahiran ( RTK ).

2. Organisasi Profesi dalam hal ini IBI : RTK akan ditunggui oleh petugas Ikatan Bidan Indonesia dalam bentuk bakti sosial sekaligus sebagai ibu asuh dan ikut mengatur regulasi masyarakat yang membutuhkan

3. Institusi Pendidikan : Melakukan penyuluhan Persiapan Proses Persalinan, Persiapan Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif, persiapan penggunaan kontrasepsi, persiapan pendidikan pola asuh dan pendidikan gizi keluarga di RTK.

4. TP PKK Kabupaten dan Kecamatan : Melakukan sosialisasi program Jampersal & RTK ke wilayah masyarakat Kecamatan dan Penggerakan masyarakat untuk lebih peduli dengan ibu hamil.

Sedangkan dipihak Puskesmas berkewajiban

1. Petugas / Pengelola KIA : RTK di Puskesmas : 1. Menyiapkan persalinan normal 2. Menyiapkan penggunaan kontrasepsi 3. Pendidikan Pola asuh

RTK di Rumah Sakit : 1. Memberi informasi ke RS perihal calon ibu bersalin 2. Pendidikan Pola asuh

2. Petugas Gizi : 1. Menyusun menu 10 hari 2. Cara penyajian makanan 3. Penyuluhan IMD dan ASI Eksklusif 4. Penyuluhan pendidikan gizi keluarga 5. Penyuluhan Gizi menyusui 6. Menentukan rekanan catering

3. Petugas Kesehatan Lingkungan : 1. Penyuluhan Hygiene Sanitasi 2. Cara penyajian makanan sesuai syarat - syarat kesehatan 3. Mengatur Lingkungan

4. Promkes : 1. Sosialisasi program RTK 2. PHBS